Marhaban ya Ramadhan! Bulan suci telah tiba, di mana sebagian besar pekerja di Indonesia menjalankan ibadah puasa.
Bagi perusahaan, momen ini membawa tantangan tersendiri dari sisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Mengapa? Karena menahan makan, minum, dan perubahan pola tidur selama sebulan penuh secara drastis memengaruhi ketahanan fisik pekerja.
Dua musuh utama K3 selama Ramadhan adalah Dehidrasi dan Fatigue (Kelelahan Ekstrem).
Jika pekerja di area risiko tinggi (seperti konstruksi, operator alat berat, atau manufaktur) mengalami hilang konsentrasi meski hanya sedetik, nyawa bisa menjadi taruhannya. Lalu, bagaimana menyiasatinya agar ibadah pekerja lancar, namun target produksi tetap tercapai dengan aman? Terapkan 5 strategi ini!
1. Sesuaikan Jadwal Kerja Fisik yang Berat
Jangan paksakan ritme kerja seperti hari biasa. Jika memungkinkan, alihkan pekerjaan fisik yang menguras keringat (seperti mengangkat material atau bekerja di area panas terik) pada pagi hari saat energi pekerja masih penuh setelah sahur.
Geser pekerjaan yang sifatnya lebih ringan atau administratif ke waktu siang atau sore hari menjelang jam berbuka.
2. Perbanyak Micro-Breaks (Istirahat Singkat)
Pekerja yang berpuasa lebih cepat lelah karena kadar gula darah menurun. Berikan izin istirahat singkat (micro-breaks) sekitar 5-10 menit setiap beberapa jam sekali di ruangan yang sejuk. Ini sangat membantu memulihkan fokus otak dan menurunkan suhu tubuh, terutama bagi pekerja lapangan.
3. Lakukan Toolbox Talk Bertema Kesehatan Puasa
Briefing pagi (Toolbox Talk) jangan hanya membahas target produksi. Manfaatkan momen ini untuk mengedukasi pekerja tentang pentingnya asupan nutrisi saat sahur.
Sarankan pekerja untuk menghindari minuman tinggi gula atau kafein (kopi/teh) saat sahur karena sifatnya diuretik (membuat cepat buang air kecil dan memicu dehidrasi). Edukasi mereka untuk memperbanyak minum air putih dan mengonsumsi buah kaya serat.
4. Terapkan Buddy System (Kerja Berpasangan)
Kelelahan ekstrem kadang tidak disadari oleh diri sendiri. Terapkan Buddy System, di mana pekerja dipasangkan berdua untuk saling mengawasi. Jika satu orang mulai terlihat pucat, linglung, atau limbung, rekannya bisa segera menghentikan pekerjaan tersebut dan membawanya ke area istirahat.
5. Siagakan Fasilitas Medis & Ruang Kesehatan
Potensi pekerja pingsan karena hipoglikemia (gula darah drop) atau dehidrasi sangat tinggi di bulan puasa. Pastikan fasilitas Kotak P3K di area kerja terisi lengkap sesuai standar. Berikan arahan yang jelas kepada seluruh pekerja tentang prosedur evakuasi medis jika ada rekan yang kolaps agar mendapat penanganan yang cepat.
Kesimpulan
Bulan puasa bukanlah alasan untuk menurunkan standar keselamatan. Sebaliknya, pengawasan K3 justru harus ditingkatkan karena kondisi fisik pekerja sedang tidak 100% bugar.
Untuk memastikan semua strategi manajemen kelelahan (fatigue management) dan SOP keselamatan ini berjalan dengan baik di lapangan, perusahaan dituntut memiliki sosok Komandan Keselamatan yang kompeten.
Apakah perusahaan Anda sudah memiliki pengawas K3 yang handal dan tersertifikasi?
Hubungi Sertifikasi Indonesia sekarang. Bersama mitra resmi kami Veritrust Academy, kami secara rutin menyelenggarakan pembinaan Ahli K3 Umum (Lisensi Kemnaker RI & BNSP). Cetak ahli keselamatan di perusahaan Anda agar target produksi tetap aman dan lancar di bulan puasa. Selamat menunaikan ibadah puasa, utamakan keselamatan!
Baca juga: Sertifikasi OPLB3 dan PLB3: Sering Tertukar, Ini Bedanya!

