Bekerja di area proyek atau pabrik memiliki risiko yang sangat tinggi. Oleh karena itu, persiapan matang sebelum mulai bekerja sangatlah mutlak. Pekerja tidak boleh langsung mengeksekusi tugas tanpa memetakan potensi bahayanya. Faktanya, kecerobohan kecil saja bisa memicu kecelakaan fatal di lapangan.
Maka dari itu, setiap perusahaan wajib memiliki dokumen Job Safety Analysis (JSA). Dokumen ini adalah panduan dasar untuk mengendalikan risiko secara sistematis. Bahkan, penyusunan analisis keselamatan ini sangat direkomendasikan oleh Kementerian Ketenagakerjaan RI. Selanjutnya, mari kita bedah cara menyusunnya dengan tepat dan mudah!
Apa Itu Job Safety Analysis (JSA)?
Banyak praktisi pemula masih bingung membedakan dokumen JSA dan HIRADC. Pada dasarnya, JSA berfokus pada analisis satu jenis pekerjaan yang sangat spesifik. Misalnya, Anda membuat prosedur aman khusus untuk aktivitas pengelasan di dalam tangki.
Di sisi lain, panduan dari Occupational Safety and Health Administration (OSHA) menyebutnya sebagai instrumen pencegahan harian. Tujuannya adalah memastikan setiap langkah kerja sudah dilindungi dengan alat yang tepat. Kesimpulannya, dokumen ini akan memudahkan pekerja memahami bahaya di depan mata.
4 Langkah Mudah Membuat JSA Sesuai Standar
Menyusun dokumen analisis ini sebenarnya tidak terlalu rumit. Oleh sebab itu, Anda hanya perlu mengikuti empat langkah sistematis berikut ini:
1. Menentukan Pekerjaan yang Akan Dianalisis
Pertama, pilihlah pekerjaan yang memiliki catatan tingkat kecelakaan paling tinggi. Selain itu, Anda juga bisa memilih tugas baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Pekerjaan dengan prosedur operasional yang sangat kompleks juga wajib diprioritaskan. Tujuannya agar fokus analisis tim Anda bisa lebih tepat sasaran.
2. Memecah Pekerjaan Menjadi Langkah Dasar
Kedua, uraikan pekerjaan tersebut menjadi beberapa urutan langkah yang berurutan. Sebaiknya, jumlah langkah tidak kurang dari tiga dan tidak lebih dari sepuluh. Jika terlalu detail, dokumen tersebut akan menjadi sangat panjang dan membosankan. Sebaliknya, ringkasan langkah yang terlalu umum akan membuat bahaya tersembunyi terlewatkan.
3. Mengidentifikasi Potensi Bahaya
Ketiga, amati setiap langkah kerja dengan sangat teliti dan hati-hati. Kemudian, tanyakan pada diri Anda apa yang bisa berakibat salah pada tahap tersebut. Misalnya, apakah ada risiko tangan pekerja terjepit mesin pemotong yang tajam. Selanjutnya, catat semua potensi cedera fisik maupun paparan bahan kimia yang mungkin terjadi.
4. Menentukan Tindakan Pengendalian
Terakhir, tentukan solusi untuk menghilangkan atau mengurangi paparan bahaya tersebut. Solusi terbaik adalah mengubah prosedur kerja menjadi lebih aman secara teknis. Namun, jika tidak memungkinkan, pastikan pekerja memakai Alat Pelindung Diri (APD) standar. Akhirnya, tindakan pengendalian ini harus ditulis dengan kalimat instruksi yang sangat jelas.
Tingkatkan Kompetensi K3 di Perusahaan Anda!
Membuat dokumen JSA yang akurat membutuhkan keahlian observasi yang sangat tajam. Oleh karena itu, pengawas lapangan wajib dibekali dengan edukasi keselamatan yang komprehensif. Tanpa kompetensi tersebut, dokumen analisis hanya akan menjadi tumpukan kertas tak berguna.
Maka dari itu, tingkatkan keahlian tim internal Anda secara berkala. Anda bisa mempercayakan pelatihan operasional perusahaan bersama instruktur unggulan dari Veritrust Academy.
Segera hubungi Sertifikasi Indonesia hari ini juga! Akhirnya, Anda bisa mendaftarkan tim internal perusahaan dalam program Pelatihan Ahli K3 Umum.
Baca juga: Panduan Lengkap ISO 45001: Pengertian, Syarat, dan Cara Kerjanya

